Sabtu, 12 Mei 2012

kepemimpinan pendidikan


KADERISASI DAN KUALITAS KEPEMIMPINAN
A.    PENDAHULUAN
 Organisasi menjadi alat yang ampuh untuk mempercepat pencapaian tujuan. Manusia berhimpun dalam suatu kelompok atau organisasi untuk memadukan kemampuannya sehingga diperoleh sinergi yang kuat dalam mewujudkan tujuan bersama. Dengan adanya wadah, maka timbul usaha untuk mengaturnya, mulai dari pembagian kerja, komunikasi antarindividu, pemberian upah atau gaji, kenaikan pangkat atau golongan, serta timbulnya strata atau hierarki dalam organisasi. Semakin berkembang menjadi besar suatu organisasi, semakin kompleks pula masalah yang dihadapi, terutama masalah yang berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM), tuntutan organisasi dengan keinginan tiap-tiap anggota organisasi, stabilitas dengan inovasi, perkembangan dinamika organisasi dengan birokrasi yang sempit, dan sebagainya.
Proses tersebut tidak akan pernah berhenti. Persoalan yang muncul adalah bagaimana pemimpin suatu organisasi dapat mengatasi serta menyelaraskan segala macam persoalan tersebut untuk mendukung tercapainya tujuan organisasi. Oleh sebab itu diperlukan seorang pemimpin yang mampu mengitkuti perkembangan serta gerak masyarakat yang berkembang bahkan terkadang sangat cepat.
Perkemabangan kepemimpinan yang sngat cepat menimbulkan berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan melalui berbagai cara di dalam menghadapi perkembangan, dinamika masyarakat, serta berbagai macam sikap masyarakat dewasa ini.
Kesadaran dan pemahaman tentang segala aspek kepemimpinan seperti prinsip-prinsip, persyaratan, dan fungsi-fungsi kepemimpinan sangat berpengaruh dalam tercapainya kualitas kepemimpinan yang baik. Oleh sebab itu, perlu adanya suatu sumber yang dapat dimanfaatkan untuk merangsang kesadaran bahwa kepemimpinan di sini berperan dalam kehidupan berorganisasi.
Seorang pemimpin yang baik diharapkan dapat memahami segala aspek perilaku kepemimpinan dan mengetahui kapan fungsi kepemimpinan diperlukan. Pemimpin yang baik perlu memiliki tiga macam kesadaran, yaitu: sadar kapan pemimpin itu diperlukan dalam situasi tertentu, sadar akan perubahan tata nilaibaik dalam lingkungan unit kerjanya maupun dalam masyarakat, dan sadar betapa pentingnya kepemimpinan yang efektif yang mampu menggerakan orang lain bekreja seefektif mungkin.
Untuk mendapatkan pemimpin yang baik di masa searang dan yang aan datang perlu adanya kaderisasi kepemimpinan yang berkualitas sehingga dapat mengahasilkan pemimpin-pemimpin yang mampu mempertanggungjawabkan apa yang dipimpinnya dan mampu membawa organisasi menjadi organisasi yang maju dan terhindar dari KKN.

B.     KADERISASI KEPEMIMPINAN

Kader diartikan sebagai orang yang diharapkan akan memegang jabatan atau pekerjaan penting di suatu organisasi seperti pemerintahan, partai, dan lain-lain. Sedangkan pengkaderan adalah proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader.  Kaderisasi kepemimpinan berarti proses mempersiapkan seseorang menjadi pemimpin pengganti di masa depan, yang akan memikul tanggungjawab penting di lingkungan suatu organisasi.
Kaderisasi diperlukan karena manusia termasuk yang sedang menjabat sebagai pemimpin, suatu saat pasti akan mengakhiri masa kepemimpinannya, baik dikehendaki ataupun tidak. Dalam pelaksanaan proses kaderisasi terdiri dari dua macam yaitu kaderisasi informal dan kaderisasi formal.

1.      Kaderisasi Informal
Seorang pemimpin yang berkualitas tidak bisa dictak dalam jangka waktu yang singkat, akan tetapi memerlukan jangka waktu yang cukup lama. Seluruh kehidupan seseorang sejak masa kanak-kanak dan masa remaja merupakan masa kaderisasi sebagai upaya membentuk pribadi yang ugnngul dalam segala aspek sehingga mampu bersaing.
Kepribadian positif harus senantiasa dipupuk sejak dini dan selamanya. Dari proses tersebutlah seorang dapat mengurangi, mengubah, dan bahkan menghilangkan aspek-aspek negatif. Orang tua (lingkungan tampat tinggal) berperan besar dalam dalam pengembangan pribadi positif ini. Karena di sekolah misalnya, berfokus pada kurikulum, waktu belajar dan pengajarnyapun terbatas, dan berorientasi pada intelektual saja. Inilah yang dikatakan sebagai kaderisasi informal yakni proses pengkaderan oleh lingkungan tempat tinggal dan bersosialisasi.
Dalam kaderisasi informal terdapat beberapa indikator calon pemimpin yang berkepribadian positif dalam merebut kempemiminan dilakukanya dengan gigih berdasarkan prestasi, loyalitas, dan memiliki sikap pasrah kepada Tuhan YME sebagai penentu mutlak. Oleh karena itu, keaktifan dan kebersamaan antara senior dan generasi mudanya dalam mengerjakan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat guna menghasilkan calon pemimpin yang berkualitas sangatlah penting. Sebaliknya, harus aktif pula menghindari atau tidak mengerjakan sesuatu yang akan berakibat dihasilkan calon pemimpin yang buruk kualitasnya. Dengan demikian generasi yang terdahulu harus seringkali memberikan contoh dan keteladanan, bimbingan, dan arahan agar generasi muda menyerap secara baik guna mempersiapkan dirinya sebagai pemimpin dengan memperlihatkan akhlak yang baik.

2.      Kaderisasi Formal
Jenis kaderisasi ini menunjukan bahwa dalam mempesiapkan calon pemimpin dilakukan usaha secara berencana, teratur, tertib, sistematis, terarah, dan disengaja. Bahkan usaha ini dapat dilakukan secara kelembagaan sehingga makin jelas keformalannya. Dalam proses kaderisasi ini mengikuti kurikulum yang harus ditempuh dalam jangka waktu tertentu yang berisi teori dan praktik tentang kepemimpinan serta bahan-bahan pendukung lainya.
Kaderisasi formal memilik keuntungan karena mempunyai daya dorong bagi peningkatan prestasi melalui kompetisi yang sehat, dan mampu menjadi motivasi untuk menumbuhkan kerja sama, karena untuk berprestai tidak mungkkin dilakukan sendiri.
Usaha kaderisasi intern yang bersifat formal, dapat ditempuh dengan beberapa cara, di antaranya:
·         Memberi kesempatan menduduki jabatan pemimpin pembantu.
·         Latihan kepemimpina di dalam atau luar organisasi.
·         Memberikan tugas belajar.
·         Penugasan sebagai pucuk pimpina suatu unit.
Sedangkan kaderisasi ekstern bersifat formal dapat dilakukan langkah sebagai berikut.
·         Menyeleksi sejumlah generasi muda lulusan lembaga pendidikan jnis dan jenjang tertentu, untuk diangkat menjadi pimpinan di suatu unit yang sesuai atau ditugaskan magang sebelum ditugaskan memimpin unit yang dimaksud.
·         Menyeleksi sejumlah generasi muda lulusan lembaga pendidikan jnis dan jenjang tertentu, untuk disekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi di dalam atau luar negeri.
·         Memesan sejumlah pemuda dari lembaga pendidikan formal dengan program khusus atau spesialisasi, sesuai dengan bidang yang dikelola oleh organisasi pemesan.
·         Menerima sejmlah generasi muda dari suatu lembaga yang melakukan kerja praktik dilingkungan organisasi. Dan apabila dinilai memenuhi syarat untuk dikader menjadi pemimpin, dapat ditawari pekerjaan setelah lulus.
·         Memberikan beasiswa pendidikan kepada anak-anak yatim piatu atau yang orang tuanya tidak mampu sebagai siswa atau mahasiswa berprestasi sesuai kebutuhan organisasi. Dan langsung ditempatkan pada jalur yang memberi peluang dia menjadi pemimpin.

C.     HAK ASASI MANUSIA DALAM KEPEMIMPINAN

Dalam TAP MPR RI no. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia dan Unesco 1999 bahwa hak asasi manusia adalah anugrah Tuhan Yang Maha Esa yang melekat pada diri manusia, bersifat kodrati, universal, dan abadi, berkaitan dengan harkat dan martabat manusia.
Hak-hak asasi manusia pada dasarnya berarti kebebasan individu dalam mengaktualisasi diri sesuai dengan harkatnya sebagai manusia. Harkat manusia itu menyangkut tiga aspek, yakni:
a)      Harkat manusia sebagai individu
Hak asasi manusia yang utama adalah hak hidup dan keselamatan diri. Setiap manusia mempunyai hak untuk mendapat perlindungan diri secara jasmani dari ancaman manusia lainya. Untuk itulah pemerintah sebagai pemimpin organisasi kemasyarakatn terbesar berkewajiban untuk memberikan perlindungan kepada masyarakatnya, menghukum pelaku berbagai tindak kejahatan. Selain itu pemerintah juga berkewajiban memberikan jaminan keselamatan kerja bagi masyarakatnya,
b)      Harkat manusia sebagai makhluk sosial
Manusia memang dicipta sebagai makhluk yang tidak mampu hidup sendiri. Untuk kebutuhan hidupnya manusia saling membutuhkan dan harus saling tolong menolong dan menyelesaikan masalah kehidupan masing-masing. Untuk itu manusia harus menjalin hubungan yang harmonis antara manusia satu dengan yang lainya. Dengan kata lain manusia hanya akan berhasil mewujudkan kehidupan yang harmonis, dalam suasana saling mengasihi.
Namun, pada kenyataanya dalam kehidupan bersama itu kerap kali terdapat permusuhan, penekanan, penindasan, dan sebagainya, tidak saja oleh pihak penguasa namun juga dari sesama anggota masyarakat. Dalam keadaan yang demikian ini manusia menuntut untuk mendapatkan prlindungan hak asasi yang memungkinkannya untuk mewujudkan kehidupan bersama secara efektif. Di sinilah diharapkan peran pemimpin untuk memberi perlindungan yan dituntut tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hak asasi sebagai makhluk sosial pada dasranya bersumber dari hak asasi individu sebagai makhlluk pribadi, namun berpengaruh besar terhadap perwujudan hidup bersama yang harmonis.
c)      Harkat manusia sebagai makhluk Tuhan YME
Kehidupan manusia di bumi ini merupakan karunia Tuahn Yang Maha Esa, yang diberikan tanpa kesempatan untuk memilih. Manusia patut menyadari bahwa semua kondisi yang melekat pada dirinya dan semua kondisi di luar dirinya adlah milik Tuhan yang dipinjamkan sementara waktu pada manusia. Pinjaman yang berharga itu ialah harkat sebagai manusia, yang berbeda dari makhluk yang diciptakan sebagai penghuni yang sama di bumi ini. Harkat kemanusiaan itu menempatkan manusia sebagai makhluk yang mulia dibanding makhluk lainnya. Untuk mempertahankan, memelihara, dan meningkatkan harkat yang mulia itu, selain manusia dibekali akal,perasaan, dan nafsu yang hanya befungsi dalam satu kesatuan ubuh (fisik), juga di bekali-Nya dengan agama.
Dari segi kepemimpinan, yang penting diwujudkan adalah usaha untuk membangun kerjasama agar semua anggpta organisasi terpanuhi hak asasinya sebagai manusia yang memiliki harkat yang mulia.

D.    PENINGKATAN KUALITAS KEPEMIMPINAN

Peningkata kualitas kepemimpina berarti usaha meningkatkan kualitas kepemimpinan harus dilakukan secara terus-menerus, mengingat kondisi kehidupan masyarakat yang dinamis. Usaha itu harus dimulai dari pengembangan kemampuan berpikirnya, agar berlangsung sebagai proses yang efektif, dlam membuat keputusan yang akan mengawali aktivitas kepemimpinan dalam mengerakkan orang-orang yang dipimpin.
Peningkatan kualitas kepemimpina harus dilakukan sebagai usaha pengembangan kemampuan daam memecahkan masalah, melalui proses mengikut sertakan atau meningkatkan peran serta orang-orang yang dipimpin. Dengan kata lain memberdayakan anggota dalam suatu organisasi yang dipimpin.
Usaha – usaha tersebut d antaranya:
1.       Berpikir Efektif dalam Menetapkan Keputusan        
Berfikir merupakan potensi psikis yang sangat istimewa, yang kualitasnya pada manusia jauh melampaui kemampuan berfikir yang diberikan Tuhan yang maha esa pada hewan, sebagai mahluk ciptaan-Nya yang sama-sama penghuni bumi. Dalam sejarah berfikir manusia ternyata dengan kemampuannya itu, manusia telah berusaha memikirkan segala sesuatu, termasuk juga berfikir mengenai proses berfikir itu sendiri.

Proses berpikir dalam diri seseorang
*      Berfikir yang bersifat intra-personal, yakni yang berlangsng di dalam psikis/otak seseorang, yang bersangkutan dengan atau untuk dirinya sendiri.
*      Berfikir yang bersifat inter-personal, yakni yang berlangsung di dalam psikis/otak seseorang, yang berhubungan dengan dan berakibat sesuatu pada orang lain.

Ada beberapa indikator dalam berpikir efektif, yaitu:
Proses berpikir tidak boleh dlakukan secara emosional, mempertimbangkan masukan dari orang lain(masukan/kritikan), bersifat realistis, dan bebas dari prasangka.

2.      Mengkomunikasikan Hasil Berpikir
Hasil berfikir seseorang yang cemerlang tidak ada artinya jika tidak dinyatakan dan dikomunikasikan. Hasil berfikir yang ada dalam pikiran tidak pernah diketahui orng lain selama tidak dinyatakan secara lisan atau tertulis atau bentuk tindakan/perilaku. Demikian juga bagi seseorang pemimpin, hasil berpikirnya tidak akan berfungsi dalam menggerakan anggota organisasinya, jika tidak dikomunikasikan secara efektif.

3.      Meningkatkan Partisipasi dalam Memecahkan Masalah
Kemampuan membina kerjasama berarti mampu mendorong dan memanfaatkan parsipasi anggota organisasi secara efektif dan efisien. Partispasi dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan, yang dapat disebuut sebagai partisipasi dalam memeahkan masalah. Hal ini aka bermuara pada pengembangan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas secara operasional. Partisipasi anggota kelompok dapat dibedakan menjadi dua yaitu fisik dan non fisik.

4.      Menggali dan Meningkatkan Kreativitas
Proses menggali dan meningkatkan kreativitas anggotaorganisasi dapat dilakukan dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi dan menilai kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan. Usaha lain yang dapat dilakukan ialah dengan menimbulkan rasa bangga terhadap eberhasilan yang dicapai. Selanjutnya usaha menggali dan usaha tersebut dapat dilakukan dengan cara yang lebih formal dan bahkan cenderung bersifat ilmiah, dalam bentuk diskusi panel, seminar, lokakarya dan lain-lain antar anggota organisasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil menggali dan meningkatkan kreativitas itu merupakan umpan balik yang sangat berharga untuk dipegunakan dalam mengembangkan kegiatan yang menjadikan organisasi semakin dinamis.
www.ilmu.com

Selasa, 13 Desember 2011

www.PERENCANAAN OPERASIONAL SEKOLAH.com



PERENCANAAN OPERASIONAL SEKOLAH
A.  Perencanaan Operasional Sekolah
Perencanaan operasional (Renop)  diturunkan dari  perenncanaan taktis (Restra)   maka  Renop tidak boleh menyimpang dari Restra,  hanya saja Renop  mempunyai focus yang lebih  sempit , jangka waktu lebih pendek , dan melibatkan manajemen tingkat bawah.Dua jenis rencana operasional : rencana tunggal (sekali pakai) dan standing plan (dapat dipakai berkali-kali). Rencana tunggal lebih sesuai dipakai untuk mencapai tujuan yang spesifik, yang kemudian dihapuskan setelah tujuan tersebut tercapai.Rencana standing merupakan rencana standar yang lebih sesuai dipakai untuk mencapai tujuan yang muncul berulang-ulang.[1]
Restra dan Renop inilah yang selanjutnya akan dipergunakan sebagai dasar untuk melakukan monitirong dan evaluasi, pembinaan, dan pembimbingan oleh berbagai pihak yang berkepentingan dengan sekolah.


B. Langkah-Langkah Penyusunan Rencana Operasional (Renop)
        Paling tidak ada beberapa hal langkah-langkah penyusunan Renop;
1.      Melakukan Analissis lingkungan Operasional Sekolah
Langkah ini pada perinsipnya sama dengan analisis lingkungan strategis.Perbedaanya adalah analisis lingkungan operasional sekolah lebih cenderung kepada lingkungan sekolah yang cakupannya lebih sempit dan berpengaruh langsung kepada operasional sekolah, yaitu menganalisis kebutuhan masyarakat /daerah setempat, potensi daerah, sekolah, masyarakat sekitar, kondisi keografis sekitar sekolah, ekonomi masyarakat sekitar sekolah, dan potensi lainnya, termasuk didalamnya regulasi atau kebijakan daerah dan peta perpolitikan daerah setempat.[2]
Hasil kajian dan penelitian terseebut, baik yang bersifat kuantitas maupun kualitas dafat menjadi acuan dann dapat dipergunakan untuk membantu melakukan analisis pendidikan yang ada disekolah sekarang ini.
2.      Melakukan Analisis Sekolah Saat Ini dan Satu Tahun Kedepan(yang Diharapkan)
Suatu analisis atau kajian yang dilakukan sekolah untuk mengetahui semua
unsur internal sekolah yang akan dan telah memengaruhi  penyelenggaraan pendidikan dan hasil-hasilnya. Analisis tersebut lebih menitikberatkan kepada analisis suatu pendidikan disekolah yang bersangkutan. Aspek atau unsur-unsur sekolah yang secara internal dapat dikaji antara lain kondisi saat ini tentang PBM, guru, kepala sekolah, laboran, tenaga perpustakaanfasilitas, media pengajaran,buku, peserta  didik, kurikulum,manajemen sekolah, kelulusan, system penilaian, dan sebagainya.[3]
           Hasil kajian tersebut dapat dirumuskan dalam school profile yang dapat dipergunakan untuk menentukan status atau potret sekolah saat ini.Hasil analisis tersebut selanjutnya akan dibandingkan dengan kondisi idealyang diharapkan pada satu tahun kedepansehingga dapat diketahui sejauh mana kesenjangan yang terjadi.
           Dalam melakukan analisis pendiidikan sekolah satu tahun kedepan sekolah melakukan suatu kajian atau penelaan cita-cita potret sekolah yang ideal dimasa dating (khususnya dalam satu tahun mendatang). Dalam analisis ini dilibatkan semua  yang terdapat disekolah, khususnya mereka yang memiliki cara pandang yang visioner sehingga dapat menentukan konndisi sekolah yang benar-benar ideal sekaligus terukur, dan rasional.

3.      Menentukan Kesenjangan Antara Situasi Sekolah Saat Ini dan yang Diharapkan Satu tahun Ke Depan
Dalam menentukan kesennjangan antara situasi saat ini dan yang diharapkan satu tahun ke depan pada dasarnya sama seperti menyusun Restra. Berdasarkan hasil analisis sekolah saat ini  dan analisis  sekolah yang ideal satu tahun mendatang, selanjutnya sekolah dapat menentukan kesenjangan yang terjadi antar keduanya [4]. Kesenjangan itulah yang menjadi sasaran yang harus dicapai atau diatasi dalam waaktu satu tahun sehingga apa yang di harapkan sekolah secara ideal dapat dicapai.
4.      Merumuskan Langkah Pemecahan
Ketika  telah melaksanakan step-step diatas,maka berdasarkan hasil yang telah ditemukan dapat diidentifikasi kelemahan dan ancaman yang dihadapi oleh sekolah pada hampir semua fungsi yang diberikan. Pada fungsi PBM yang menjadi kelemahan adalah siswa kurang disiplin, guru kurang mampu memberdayakan siswa, dan umumnya tidak banyak variasi dalam memberikan bahan pelajaran di kelas serta waktu yang digunakan kurang efektif,sedangkan yang menjadi ancaman adalah kurang siapnya siswa dalam menerimaa pelajaran, terutama pada pagi dan siang hari menjelang pulang. Di samping itu, suasana lingkungan sekolah yang kurang kondusif dan ramai karena  
5.      Menyusun Rencana dan Kunci Keberhasilan dan Kapan Dicapai
Berdasarkan beberapa alternative pemecahan persoalan yang dihasilkan dari analisis yang telah dilakukan, sekolah selanjutnya menyusun program sesuai dengan kemampuan. Sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu melaksanakan alternatif pemecahan masalah dengan inovatif maksimal dan biaya minimal.Dari alternative langkah-langkah pemecahan persoalan yang ada, kepala sekolah bersama-sama dengan unsur komite sekolah, menyusun dan merealisasikan srencana dan program-programnya untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Rencana yang dibuat harus menjelaskan secara detail dan lugas tentang aspek-aspek yang ingin dicapai, kegiatan yang harus dilakukan,,siapa yang harus melaksanakan, kapan dan dimana dilaksanakan, dan berapa biaya yang diperlukan. Hal tersebut juga diperlukan untuk memudahkan sekolah dalam menjelaskan dan memeroleh dukungan dari pemerintah maupun orangtua peserta didik, baik secara moral maupun financial.[5]
Berdasarkan tujuan atau sasaran satu tahunan dan program, selanjutnya dapat dirumuskan tentang apa saja yang akan dihasilkan (sebagai output), baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitaif dan dalam waktu kapan akan dicapai. Misalnya, dari program pencapaian standar nasional aspek sarana dan prasarana pendidikan, apa saja bentuk hasil yang akan dicapai sarana pendidikan dalam jangka satu tahun.Misalnya, dalam lima tahun akan mencapai standar nasional sarana pendidikan 2006, pada tahun pertama ini akan dicapai pada 2010.Demikian pula, hasil-hasil yang akan dicapai dari program-program lainnya.
6.      Menyusun Rencana Biaya, Jadwal Pelaksanaan dan Penanggung Jawab Program/ Kegiatan
Sekolah merencanakan alokasi anggaran biaya untuk kepentingan satu tahun. Dalam membuat rencana anggaran tersebut, setiap besarnya alokasi dana dari semua sumber dana harus dicantumkan,misalnya dana rutin atau daerah (provinsi dan kabupaten), dari pusat, komite sekolah, atau sumber dana lainnya. Penyusunan dana anggaran ini, dituangkan kedalam rencana anggaran dan belanja sekolah (RAPBS). Dalam penyusunannya harus diperperhatikan ketentuan-ketentuan dari masing-masing penanda dana.Sangat dimungkinkan suatu program dibiayai dari subsidi silang daari berbagai pos atau sumber dana.
Sumber dana untuk  program-program yang memerlukan bantuan dari pusat harus dialokasikan dari pusat dengan sharing dari sekolah dan komite sekolah atau daerah. Pada era otonomi daerah, sekolah dan daerah memiliki kewajiban yang lebih besar dalam hal pemenuhan unit cost pendidikan anak/ siswa. Dalam penyusunan anggaran di RAPBS, setiap program atau kegiatan harus Nampak jelas, terukur, dan rinci untuk memudahkan dalam menentukan besarnya dana yang diperlukan.[6]
 Setelah semuanya beres maka dilanjutkan penyusunan rencana pelaksanaan program lebih mengarah kepada kiat, cara, teknik, atau strategi yang jitu, efisien, efektif untuk dilaksanakan. Cara yang dilakukan harus disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai pada program tersebut. Beberapa cara yang bisa ditempuh misalnya, dengan pelatihan, seminar, loka karya, temu alumni, kunjungan, matrikulasi, pengayaan, pendampingan dan lainnya. Dalam perencanaan pelaksanaan harus dipertimbangkan alokasi waktu, ketersediaan dana, SDM, fasilitas dan sebagainya.
Apabila program-program telah disusun dengan baik dan pasti, sekolah dapat merencanakan alokasi waktu permingguan, bulanan, triwulan, dan seterusnya sesuai dengan karakterestik program yang bersangkutan. Fungsi utama adanya penjadwalan tersebut adalah untuk pegangan bagi para pelaksana program dan sekaligus pengontrol pelaksanaan tersebut.
Kemudian sekolah harus menentukan penanggung jawab suatukegiatan/ program, kelompok program atau keseluruhan program. Dengan SK Kepala sekolah, tiap orang atau kelompok dapat menjadi penanggung jawab atau anggota pelaksana kegiatan/program. Pertimbangan utamanya adalah profesionalitas , kesesuaian, kewenangan, kemampuan, kesediaan, dan kesempatan yang ada. Keterlibatan pihak luar seperti komite sekolah dan tokoh masyarakatdapat dilibatkan sesuai dengan kepentingannya.Pada prinsipnya, Renop harus diketahui,disetujui, dan disahkan oleh berbagai pihak yang terkait (sekolah,komite sekolah,dinas pendidikan Daerah Provensi dan Kabupaten/Kota).[7]





C.PENUTUP
      Jadi dalam penyusunan operasional sekolah, mempunyai langkah-langkah, yang harus dilakukan agar dalam perencanaan operasional sesuai dengan yang diharapkan, dan sesuai dengan restra, sebagaimana yang telah kami paparkan diatas langkah-langkah renop adalah:
a.       Melakukan Analissis lingkungan Operasional Sekolah
b.      Melakukan Analissis lingkungan Operasional Sekolah
c.       Menentukan Kesenjangan Antara Situasi Sekolah Saat Ini dan yang                       Diharapkan Satu tahun Ke Depan
d.      Merumuskan Langkah Pemecahan
e.       Menyusun Rencana dan Kunci Keberhasilan dan Kapan Dicapai
f.       Menyusun Rencana Biaya, Jadwal Pelaksanaan dan Penanggung Jawab                        Program/ Kegiatan.
Demikianlah makalah kami muda-mudahan dapat memberikan impormasi lebih tentang operasional sekolah dan jika ada kekurangan mohon perbaikannya.  


           


[1] M.Hanafi. mamduh,Manajemen, 2003,Hal.120
[2] Dr. Rohiat, M.Pd., manajemen sekolah. 2008, Hal. 105
[3] . Dr. Rohiat, M.Pd., manajemen sekolah. 2008, Hal. 106
[4] . Dr. Rohiat, M.Pd., manajemen sekolah. 2008, Hal. 106
[5] . Dr. Rohiat, M.Pd., manajemen sekolah. 2008, Hal. 110
[6] . Dr. Rohiat, M.Pd., manajemen sekolah. 2008, Hal. 111
[7] . Dr. Rohiat, M.Pd., manajemen sekolah. 2008, Hal. 113